Selasa, 25 Oktober 2016

Landasan Psikologis, Moral, Etika dan Agama dalam Pendidikan Karakter

Landasan Psikologis, Moral, Etika dan Agama dalam
Pendidikan Karakter

A.  Landasan Psikologis
Pendidikan karakter saat ini tidaklah muncul begitu saja dan tidak juga muncul hanya sekedar untuk menanggapi kondisi moral anak bangsa yang cenderung berorientasi material ketimbang nilai. Namun, pendidikan karakter telah ada seiring dengan terbangunnya peradaban dan perkembangan psikologi. Menurut Gable dan Haidt di sinilah pentingnya psikologi positif untuk membawa bagaimana kualitas dari karakter positif cenderung bertahan dan lebih baik.
Menurut Gardner dan Mihaly Csikszentmihalyi, dalam hubungannya dengan pembangunan karakter, seseorang yang ingin menghasilkan pekerjaan yang baik, perlu memahami tiga dasar yang menyertainya, yaitu (1) mission, (2) standards and (3) identity. Maksudnya adalah ada tiga hal yang sangat mendasar dalam membangun kerja yang baik, yakni misi yang merupakan ciri profesi yang menegaskan di mana mereka terlibat, standar yang merupakan praktik terbaik dari suatu profesi yang dibangun, sedangkan identitas adalah nilai-nilai dan identitas personal.
Pertama, setiap bidang pekerjaan memiliki misi tertentu dalam menghasilkan suatu pekerjaan yang berkualitas tinggi. Misalnya, misi seorang guru atau dosen adalah untuk mendidik dan mengarahkan peserta didik guna mencapai keberhasilan dalam pendidikannya, bukan untuk memanfaatkan peserta didik dalam mencari keuntungan pribadi.
Kedua, standar pekerjaan yang dibangun harus mempertimbangkan etika dan moral. Misalnya, seorang guru atau dosen harus memiliki moral yang tinggi dalam setiap pergaulan, memperlakukan peserta didik secara adil dan bijaksana, dan menjaga etika.
Ketiga, berhubungan dengan latar belakang, ciri, dan nilai-nilai yang berhubungan dengan pekerjaan dan merupakan pengertian holistik dari identitas. Kadang-kadang hasil pekerjaan yang baik dapat dilihat dan diidentifikasikan dari hasil kerjanya. Artinya, seseorang yang telah menghasilkan pekerjaan yang baik dapat dikenang dan diukur dari kualitas yang dihasilkan. Elemen penting dari identitas adalah moral, di mana orang bisa menentukan dalam batas mana yang boleh dilakukan dan mengapa batas-batas itu tidak bisa dilakukan.

B.  Landasan Moral
Pendidikan kewarganegaraan sebagai perwujudan atau boleh dikatakan sebagai pengganti mata pelajaran atau kuliah pendidikan moral pancasila seolah-olah kehilangan jati diri pancasila dan pendidikan moralnya. Konsekuensinya, ditengah derasnya arus globalisasi informasi dan komunikasi dimana akses informasi dan pengetahuan menjadi semakin mudah, sehingga penurunan moral pun tidak dapat dihindarkan. Dalam pelaksanakan pendidikan ini, tidak jarang terjadi praktik-praktik kecurangan yang mengiringi setiap penyelenggaraan ujian nasional, mulai dari pembocoran soal ujian, penyewaan jasa joki hingga sampai pada penyontekan massal. Untuk memperdalam pembahasan tentang pendidikan karakter, walaupun tidak terlepas dari pandangan pro dan kontra, perlu dijabarkan landasan moral pendidikan karakter.
Terdapat perbedaan mendasar antara moral dan etika. Pertama, moral merupakan karakter individu dari seseorang, sedangkan etika menekankan pada sistem sosial, di mana moral-moral tersebut diterapkan.
Kedua, ketika moral dan etika dikupas secara terpadu (integrated), maka pembahasan dari kedua disiplin tersebut menjadi sangat tidak memadai untuk menjadi landasan dalam kajian pendidikan karakter.
Salah seorang ilmuan psikologi ternama yang dikenal juga dengan bapak konstruktivisme, Jean Piaget dikenal sebagai ilmuan yang mengkaji persoalan-persoalan moral dalam hubungannya dengan perkembangan intelektualitas anak. Dia mengkaji bagaimana anak-anak bermain permainan (game) untuk memelajari keyakinan mereka tentang mana yang benar dan yang salah.
Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh Piaget terhadap salah satu permainan yaitu, bermain kelereng yang menunjukkan bahwa perkembangan moral muncul dari tindakan. Hasil observasi yang dilakukan oleh Piaget, kemudian digunakan dalam mengembangkan teorinya mengenai moralitas anak-anak. Seperti dikatakan oleh Singer dan Revenson bahwa, jika anda mengobservasi anak-anak di bawah umur tujuh tahun ketika sedang bermain, anda akan melihat mereka mengelaborasi aturan-aturan mereka sendiri, mengadaptasikan ke dalam situasi khusus, kemudian mengubah sesuai kehendak mereka, namun mereka yakin bahwa mereka bermain sesuai dengan aturan. Aplikasi aturan-aturan yang mengikuti tiga tahap utama tentang perkembangan moralitas anak-anak, yakni:
·           Motorik atau karakter individu, umur 0-2 tahun
Sebelum anak berusia 2 tahun, permainan hanya sekedar aktivitas motorik yang bersifat ritual semata. Dalam tahap ini, peraturan belum ada.
·           Egosentrik, umur 2-7 tahun
Merupakan tahapan transisi antara perilaku individu dan perilaku sosial yang mengikutinya. Artinya, pada saat yang sama, anak bermain dengan kawan-kawan seusianya, tetapi masing-masing mereka berbicara dengan mainannya sendiri. Dalam tahap ini, anak-anak mempertahankan egonya masing-masing untuk memamerkan keunggulan mainannya.
·           Kerjasama, umur 7-11 tahun
Tahapan kerja sama, di mana anak-anak mulai umur 7 tahun sudah dapat mengembangkan pengertian kerjasama.
·      Kodifikasi aturan-aturan, umur 11-12 tahun dan hingga dewasa.
Tahap kodifikasi aturan, umur 11-12 tahun, sudah dapat mengikuti kodifikasi aturan yang sesuai dan tegas. Aturan telah dipahami oleh semua pemain dan dinonton oleh masyarakat luas. Pemahaman pada aturan yang jelas dan ketat itulah yang sering mengeliminasi mereka untuk bertengkar atau berselisih paham. Karena ada perbedaan pendapat dan mereka langsung kembali kepada aturan main.

Jika mereka melakukan kesalahan lebih besar dari yang lainnya, mereka juga merasa lebih besar kesalahannya dibandingkan dengan mereka yang kecil tingkat kesalahannya. Piaget, mendapatkan anak yang mencuri lebih banyak atau bercerita dengan kebohongan yang lebih besar, merasa lebih bersalah atau berdosa dari pada anak yang mencuri hanya satu benda atau bercerita dengan tingkat kebohongan yang relatif kecil.

C.  Landasan Etika
Kata Etika (Etimologi), berasal dari bahasa Yunani adalah “Ethos”, yang berarti adat kebiasaan. Etika biasanya berkaitan erat dengan perkataan moral yang merupakan istilah dari bahasa Latin, yaitu “Mos” dan dalam bentuk jamaknya “Mores”, yang berarti juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik, dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk.
Etika dan moral kurang lebih sama pengertiannya, tetapi dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan, yaitu moral atau moralitas untuk penilaian perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika adalah untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang berlaku. [1]
Banyak teori tentang etika, Graham (2004) mengemukakan delapan teori tentang etika, yaitu:
1. Egoisme
2. Hedonisme
3. Naturalisme dan teori kebaikan
4. Eksistensialisme
5. Kantisme
6. Utilitarianisme
7. Kontraktulaisme
8. Teori yang berdasarkan agama
Namun, disini penulis hanya akan menjelaskan tiga teori antara lain Egoisme, Kantisme dan Utilitarianisme, karena ketiga teori ini sudah mencakup mengenai teori etika dalam pendidikan karakter.
1.    Egoisme
Egoisme adalah cara untuk mempertahankan dan meningkatkan pandangan yang menguntungkan bagi dirinya sendiri dan umumnya memiliki pendapat untuk meningkatkan citra pribadi seseorang dan pentingnya intelektual, fisik, sosial dan lainnya. Egoisme ini tidak memandang kepedulian terhadap orang lain maupun orang banyak, pada umunya hanya memikirkan diri sendiri.
2.    Kantisme atau Kantianisme
Kantianisme adalah pemahaman di mana setiap kita mengambil keputusan, kita harus membayangkan bagaimana kita adalah pihak yang dirugikan. Pemahaman ini  menjelaskan bahwa bila kita melakukan suatu tindakan, maka tindakan itu dilakukan tanpa memperhatikan kepentingan orang lain.
3.    Utilitarianisme
Utilitarianisme adalah suatu tindakan benar atau salah tergantung pada baik buruknya akibat tindakan tersebut,  bagi  siapa saja yang dipengaruhi oleh tindakan tersebut. 

D.  Landasan Agama
Semua agama mengajarkan tentang moral, nilai, etika, dan terlebih untuk melakukan perbuatan baik, tidak diperbolehkan untuk melakukan perbuatan jelek, dan berbagai ajaran spiritual. Pada tahun 2006-2007, Yosi Amran melakukan penelitian tentang nilai-nilai spiritual yang tercermin dari ajaran moral, nilai, dan etika dengan melibatkan beberapa agama seperti Budha, Hindu, Kristen, Islam, Yahudi, Non-Dual, Shamani, Taoisme, dan Yoga. Kemudian, dia merumuskan tujuh nilai-nilai dasar spiritual yang terdapat dalam semua agama tersebut, yakni (1) kesadaran, (2) keanggunan, (3) kebermaknaan, (4) nilai yang melampui di atas segalanya, (5) kebenaran, (6) kedamaian, (7) kebijaksanaan.
Agama menjadikan manusia sebagai pribadi yang mulia. Agama menjadikan manusia mempunyai budi pekerti yang baik. Eduard spranger membagi budi pekerti menjadi enam bagian yaitu: (1) kekuasaan, (2) agama, (3) keindahan, (4) kegunaan atau faedah, (5) pengetahuan atau kenyataan, dan (6) menolong mendermakan atau mengabdi (sosial).
Untuk menguraikan hasrat dan kemauan manusia itu dapat dilihat dari kultur (dari perspektif hasrat dan kemauan), nilai dan karakteristiknya. Jika kultur manusianya cenderung mengejar kekuasaan, nilainya adalah kenegaraan, maka karakteristik manusianya adalah politikus. Jika kulturnya ekonomi, kemudian nilainya manfaat, maka karakteristik manusianya pembisnis. Begitu pula dengan budaya pengabdian, nilainya adalah sosial, maka ciri manusianya adalah organisatoris sosial atau voluntir. Jika kulturnya pengetahuan, nilainya adalah teori, maka ciri manusianya adalah ilmuan. Begitu juga dengan kultur seni, nilainya adalah estetika, maka ciri manusianya adalah seniman. Terakhir, jika kulturnya agama, kemudian nilainya adalah religi, maka ciri manusianya menjadi agamawan.
Jadi, seluruh kehidupan ini terbagi ke dalam enam struktur yang berbeda-beda dan keenam nilai ini ada di dalam diri setiap manusia. Secara ringkas dapat dilihat dari tabel dibawah :

Tabel Kultur, Nilai, dan Karakter Manusia


Kultur
Nilai
Karakter
Kekuasaan
Kenegaraan
Politikus
Ekonomi
Manfaat
Pebisnis
Pengabdian
Sosial
Organisatoris
Pengetahuan
Teori
Ilmuan
Seni
Estetika
Seniman
Agama
Religi
Agamawan

Berdasarkan kultur, nilai, dan karakter sebagaimana digambarkan di atas, maka budi pekerti manusia ada yang lebih dominan pada kekuasaan, ekonomi, pengabdian, pengetahuan, seni, dan agama manakala tidak mendapat pengendalian dan pengontrolan dari sisi moral dan etika, maka cenderung jatuh dan terperangkap dalam suatu karakter yang lebih buruk dari karakter yang sesungguhnya.
Landasan agama merupakan salah satu pilar penting dalam pendidikan karakter. Agama mengajarkan moral, etika dan budi pekerti. Proporsi agama dianggap paling besar dalam pendidikan karakter, tidak salah jika guru bidang studi agama menjadi tumpuan besar dalam mengembangkan pendidikan karakter.[2]







[1]10menit, “Pengertian Etika”, diakses dari https://10menit.wordpress.com/tugas-kuliah/pengertian-etika/, pada tanggal 29 September 2016 pukul 21.45.

[2] Andy Ahmad, Pendidikan Karakter Bangsa (Jakarta: STKIP Kusuma Negara, 2016), hlm. 33.

Klasifikasi, Karakteristik dan Peranan Statistika

Klasifikasi, Karakteristik dan Peranan Statistika

A.  Klasifikasi Statistika
Statistika dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa golongan berdasarkan: cara pengolahan, ruang lingkup penggunaan, dan bentuk indikator yang dianalisis.
a. Pembagian Statistika berdasarkan Cara Pengolahan Data
   Berdasarkan cara pengolahan datanya, statistika dibedakan menjadi statistika deskriptif dan statistika inferensi.
1)  Statistika Deskriptif
  Statistika deskriptif disebut juga statistika deduktif, merupakan bagian dari statistika yang mempelajari cara pengumpulan data dan penyajian data sehingga mudah dipahami.
 Statistika deskriptif hanya berhubungan dengan hal menguraikan atau memberikan keterangan-keterangan mengenai suatu data atau keadaan atau fenomena. Dengan kata lain, statistika deskriptif hanya berfungsi menerangkan keadaan, gejala, atau persoalan.
a) Sekurang-kurangnya 10% dari semua kebakaran di sebuah kota tertentu yang dilaporkan setiap tahun diakibatkan oleh tindakan-tindakan sengaja yang tidak bertanggung jawab.
b)  Sebanyak 50% diantara semua pasien yang menerima suntikan obat tertentu, Ternyata kemudian menderita efek samping obat itu.

Penarikan kesimpulan pada statistika deskriptif (jika ada) hanya ditunjukkan pada kumpulan data yang ada. Didasarkan atas ruang lingkup bahasanya, statistika deskriptif mencangkup hal berikut:
(1) Penyajian data dalam bentuk tabel, seperti: tabel tunggal, tabel kontigensi, maupun tabel distribusi frekuensi;
(2) Penyajian data dalam bentuk grafik, seperti: diagram batang, diagram garis, diagram lingkaran, diagram pencar, diagram peta (kartogram), diagram simbol (piktogram), maupun diagram yang disajikan dari tabel distribusi frekwensi, yaitu: histogram, poligon frekwensi, dan ogive;
(3) Ukuran nilai pusat dan letak, seperti: rerata, median, modus, varian, simpang baku, kuartil, desil, persentil, dan sebagainya;
(4) Ukuran dispresi atau simpangan, seperti: jangkauan atau rentang, rerata simpangan, variasi, simpangan baku, dan sebagainya;
(5) Model distribusi data, yaitu: kemencengan dan keruncingan kurva distribusi.
(6) Angka indeks
(7) Time series/deret waktu atau data berkala.

2) Statistika Inferensial
   Statistika inferensial disebut pula statistika indukatif adalah bagian dari statistika yang mempelajari mengenai penafsiran daan penarikan kesimpulan yang berlaku secara umum dari data sampel yang tersedia. Statistika inferensial berhubungan dengan pendugaan populasi dan pengujian hipotesis dari suatu data atau keadaan atau fenomena. Dengan kata lain, statistika inferensial berfungsi meramalkan dan mengontrol keadaan atau kejadian. Berikut ini contoh-contoh pernyataan yang termasuk dalam cakupan statistika inferensial.
a)  Akibat penurunan produksi minyak oleh negara-negara penghasil minyak dunia, diramalkan harga minyak akan menjadi dua kali lipat pada tahun-tahun yang akan datang.
b)  Dengan mengasumsikan bahwa kerusakan tanaman kopi jenis arabica kurang dari 30% akibat musim dingin yang lalu maka harga kopi jenis tersebut di akhir tahun nanti tidak akan lebih dari RP 50.000 sen per satu kilogramnya.

   Penarikan kesimpulan pada statistika inferensial ini merupakan generalisasi dari suatu populasi berdasarkan data (sampel) yang ada. Statistika inferensial biasanya digunakan untuk membuat generalisasi dari kaitan antara 2 (dua) atau lebih fenomena atau variabel. Secara garis besar, kaitan antara 2 (dua) atau lebih fenomena atau variabel dapat dibedakan atas 2 (dua) bentuk kaitan, yaitu asosiasi (hubungan) dan komparasi (perbandingan).
      Sedangkan ditinjau dari teknik uji statistika yang dapat digunakan, statistik inferensial dapat dibedakan atas: statistika Parametrik dan statistika non-parametik. Statistika parametik merupakan teknik uji statistika yang dilakukan terhadap parameter dari suatu variabel/objek secara langsung. Sedangkan statistika non-parametrik merupakan teknik uji statistika yang dilakukan terhadap sisi lain dari parameter suatu variabel “tinggi badan mahasiswa”. Maka jika data yang dianalisis dalam uji statistika adalah ukuran dari tinggi badan secara langsung. Hal tersebut merupakan ukuran parametrik; sedangkan apabila kajian terhadap tinggi badan mahasiswa tersebut, dilakukan dengan cara mengkaji urutan atau peringkat/rangking dari tinggi badan mahasiswa, hal ini menunjukkan ukuran non-parametrik. Karena peringkat tinggi badan merupakan “sisi lain” dari “ukuran” tinggi badan.[1]
   Untuk ini, maka ruang lingkup bahasan statistika inferensial secara sederhana dapat dikelompokan atas:
(1) Uji persyaratan analisis (uji pelanggaran klasik), seperti: uji normalitas, uji homogenitas, uji kelinearan, uji multikolinearitas, dan lainnya;
(2) Uji hipotesis asosiasi, seperti: uji korelasi, uji regresi, uji analisis jalur (path analysis), dan uji komunikal;
(3) Uji hipotesis komparasi, seperti: uji-t untuk uji beda 2 kelompok data, uji-Tukey, ANAVA (Analysis Varian), ANAKOVA (Analysis Kovarian), MANOVA (Mutivariat Analysis of Varians), dan MANCOVA (Multivariat Analysis of Covarians).

b. Pembagian Statistika berdasarkan Ruang Lingkup Penggunaannya
Berdasarkan ruang lingkup penggunanya atau berdasarkan disiplin ilmu yang menggunakannya, statistika dapat dibagi menjadi beberapa macam:
1)  Statistika Pendidikan
Statistika pendidikan adalah statistika yang digunakan atau diterapkan pada bidang atau disiplin ilmu pendidikan.
Contohnya : sebagai alat bantu pendidik untuk mengolah, menganalisis, dan menyimpulkan hasil yang telah dicapai dalam kegiatan penilaian peserta didik.
2)  Statistika Sosial
Statistika sosial adalah statistika yang digunakan atau diterapkan pada bidang atau disiplin ilmu sosial.
Contohnya : Sensus Penduduk, Survei Pengembangan Analisa Data Fakir Miskin dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Lainnya, Survei Struktur Upah. 
3)  Statistika Kesehatan
Statistika kesehatan adalah statistika yang digunakan atau diterapkan pada bidang ilmu kesehatan.
Contohnya : pengukuran derajat kesehatan masyarakat, memonitor kemajuan status kesehatan di suatu daerah, mengevaluasi program kesehatan.
4) Statistika Ekonomi
Statistika ekonomi adalah statistika yang digunakan atau diterapkan pada bidang ilmu ekonomi.
Contohnya : Sensus ekonomi, pertumbuhan ekonomi, inflamasi, jumlah uang yang beredar, tingkat kemiskinan, jumlah pengangguran. 
5)  Statistika Pertanian
Statistika pertanian adalah statistika yang digunakan atau diterapkan pada bidang ilmu pertanian.
Contohnya : Dalam rangka penjebaran tehnik barn untuk produksi, maka Lembaga Pusat Penelitian Pertanian telah menyelenggarakan latihan-latihan tertentu antara lain latihan produksi padi dan latihan pengawah benih.
6)  Statistika Bidang Lainnya.

c. Pembagian Statistika berdasarkan Bentuk Indikator yang di Analisis
Seperti dijelaskan di atas, berdasarkan bentuk indikator yang dianalisis, statistika dapat dibedakan menjadi statistika parametrik dan statistika non parametrik.
1)  Statistika Parametrik
     Statistika Parametrik adalah bagian statistika yang parameter populasinya harus memenuhi syarat-syarat tertentu seperti syarat data berkala interval/rasio, syarat pengambilan sempel harus random, berdistribusi normal atau normalitas dan syarat memliki varian yang homogen atau homogenitas, model regresi linear, dan sebagainya. Dalam statistika parametrik, indikator-indikator yang dianalisis adalah parameter-parameter dari ukuran objek yang bersangkutan. Contoh metode statistika parametrik : uji-z (1 atau 2 sampel), uji-t (1 atau 2 sampel), korelasi pearson, Perancangan Percobaan (1 or 2-way ANOVA parametrik), dll.
2)  Statistika Non Parametrik
    Statistika Non Parametrik adalah statistika yang parameter populasinya bebas dari keharusan terpenuhinya syarat-syarat tertentu seperti syarat-syarat data berskala interval/rasio, syarat pengambilan sempel secara random, berdistribusi normal atau normalitas, syarat memiliki varian yang homogen atau homogenitas, syarat regrasi linear, dan lain-lain. Dalam statistika non parametrik, indikator-indikator yang dianalisis adalah sisi lai dari parameter ukuran objek yang diteliti. Contoh metode statistika non parametrik : Binomial test, Chi-square test, Median test, Friedman Test, dll.
B.  Karakteristik Statistika
Sebagai ilmu pengetahuan, statistika mempunyai karakteristik sebagai berikut:

a. Statistika selalu bekerja dengan angka atau bilangan yang disebut dengan data kuantitatif 
       Hal ini dimaksudkan apabila statistika dipergunakan sebagai alat analisis bagi data kualitatif (bahan/keterangan yang tidak berwujud angka atau bilangan), maka data kualitatif tersebut harus diubah atau dikonversikan terlebih dahulu menjadi data kuantitatif, proses ini disebut kuantifikan.
Angka-angka ini dalam statistik terbagi menjadi dua bagian, yaitu :
a. Angka statistik sebagai jumlah atau frekuensi dan angka statistik sebagai nilai atau harga. Pengertian ini mengandung arti bahwa data statistik adalah data kuantitatif. 
   Contoh : jumlah buruh di Perusahaan Sinar Dunia , jumlah tanggungan orang tua, jumlah penduduk Indonesia tiap tahunnya. , jumlah pegawai negeri di Kabupaten Klungkung.
b.  Angka statistik sebagai nilai, dimaksudkan bahwa data tersebut adalah data kualitatif yang diwujudkan dalam angka. 
   Contoh : hasil ujian nasional siswa SMA, nilai keuntungan dari perusahaan , nilai indeks prestasi mahasiswa , daftar harga Hand Phone Celuler.

b.  Statistika bersifat obyektif
  Kesimpulan dan ramalan yang dihasilkan oleh statistika didasarkan pada angka yang diolah (obyektif) dan tidak didasarkan pengaruh dari luar (subyektif).  Statistik yang bersifat objektif merupakan statistik yang bekerja sesuai dengan keadaan data yang diteliti atau sesuai berdasarkan atas kenyataan yang ada atau fakta. [2]
Contoh : Pengambilan suatu data mengenai jumlah penduduk Indonesia apakah setiap tahunnya jumlah penduduk Indonesia bertambah ataukah mengalami penurunan. Dengan data yang terkumpul dapat diketahui apakah setiap tahun penduduk Indonesia bertambah atau berkurang. 

c.  Statistika bersifat universal
   Ruang lingkup statistika tidaklah sempit, ruang lingkupnya sangat luas dalam kehidupan manusia baik dibidang perdagangan, pertanian, kependudukan, pendidikan, dan sebagainya.
Contoh : statistik kesehatan, statistik perusahaan, maupun statistik keuangan.

C.  Peranan Statistika
Pada era globalisasi, hampir semua bidang tidak terlepas dengan menggunakan angka, data, dan fakta. Hal ini menunjukkan bahwa statistika sangat dibutuhkan. Statistika sebagai sarana mengembangkan cara berpikir logis, lebih dari itu statistika mengembangkan berpikir secara ilmiah untuk merencanakan (forcasting) penyelidikan, menyimpulkan dan membuat keputusan yang teliti dan meyakinkan. Baik disadari atau tidak, statistika merupakan bagian substansi dari latihan profesional dan menjadi landasan dari kegiatan-kegiatan penelitian.
Statistika berperan dalam berbagai kegiatan hidup manusia, antara lain:
1) Dalam aktivitas kehidupan sehari-hari
Dalam aktivitas kehidupan sehari-hari manusia dihadapkan pada berbagai keterangan serta bahan-bahan yang berbentuk angka-angka yang perlu ditafsirkan dan alat bantu yang berperan dalam menafsirkan bahan keterangan dan bahan-bahan yang berbentuk angka tersebut adalah statistika.
2) Dalam ilmu pengetahuan
Dalam ilmu pengetahuan akan didapati penyajian data-data dalam bentuk angka-angka, sehingga diperlukan statistika dalam menafsirkan dan menyimpulkan data tersebut.
3) Dalam aktivitas penelitian ilmiah
Dalam aktivitas penelitian ilmiah statistika berperan dalam meengemukakan, menjelaskan, menafsirkan, dan menyimpulkan data-data yang tersembunyi dibalik angka-angka.






[1] Supardi U.S., Aplikasi Statistika Dalam Penelitian, (Jakarta: Smart,2013), hlm. 06. 
[2] MEDIA FUNI@, “Pengertian Statistik dan Statistika”, diakses dari http://www.mediafunia.com/2013/03/pengertian-statistik-dan-statistika.html, pada tanggal 04 Oktober 2016 pukul 12.49.